Kamus Mahasiswa Logo
Beranda/Berita Kampus/Mahasiswa UGM Kembangkan AI Kesehatan Mental, Raih Juara Dunia dengan Hadiah Rp4 Miliar
Berita Kampus

Mahasiswa UGM Kembangkan AI Kesehatan Mental, Raih Juara Dunia dengan Hadiah Rp4 Miliar

Berawal dari pengalaman sederhana, inovasi besar lahir dari seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Giga Hidjrika Aura Adkhy (23) terinspirasi menciptakan t

By Widiyanto26 Agustus 20263 Menit Baca1,202 Dilihat0 Komentar
Mahasiswa UGM Kembangkan AI Kesehatan Mental, Raih Juara Dunia dengan Hadiah Rp4 Miliar

Berawal dari pengalaman sederhana, inovasi besar lahir dari seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Giga Hidjrika Aura Adkhy (23) terinspirasi menciptakan teknologi berbasis kecerdasan buatan setelah melihat langsung kemudahan akses layanan kesehatan mental di luar negeri.

Inspirasi tersebut muncul saat Giga mengikuti program pertukaran mahasiswa di University of Liverpool, Inggris, pada 2024. Ia menyaksikan bagaimana mahasiswa di sana dapat dengan mudah mengakses layanan psikolog hanya melalui percakapan di telepon seluler.

Berbeda dengan kondisi di Indonesia, akses layanan kesehatan mental dinilai masih terbatas dan belum merata.

Baca juga: Gangguan Kecemasan Anak Meningkat, Peneliti Ungkap Penyebabnya: Dari Individualisme hingga Turunnya Religiusitas

Giga, yang merupakan mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada (UGM), kemudian mengembangkan inovasi bernama UGM-AICare (Aika).

Inovasi tersebut berhasil meraih Juara Pertama (First Winner) kategori Play Track dalam kompetisi internasional EDU Chain Hackathon 2025, dengan total hadiah mencapai 250 ribu dolar Amerika Serikat.

“Aika” dirancang sebagai teman berbasis AI yang mampu berkomunikasi secara natural sehingga pengguna merasa seperti berbicara dengan teman nyata.

“Motivasi proyek UGM-AICare ini selain untuk syarat kelulusan saya adalah untuk mendukung teman-teman mendapatkan proper mental health care,” katanya kepada wartawan, Rabu (4/4).

Aika memiliki sistem berbasis percakapan teks yang mampu menggali serta menganalisis kondisi psikologis pengguna. Teknologi ini memungkinkan sistem untuk memberikan respons yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Beberapa kemampuan utama Aika meliputi:

  • Mengidentifikasi keluhan psikologis melalui percakapan
  • Memberikan saran mandiri seperti teknik pernapasan atau istirahat
  • Menghubungkan pengguna ke psikolog jika diperlukan
  • Menyusun rangkuman dan penilaian awal kondisi mental pengguna
  • Memberikan rekomendasi tindak lanjut berbasis analisis AI

Berbeda dengan AI generatif biasa, Aika berfungsi sebagai AI agent yang lebih aktif dan otonom dalam membantu pengguna.

Baca juga: Perjuangan Mahasiswa Madura, Anas Hampir Cuti Kini Lulus S2 IPK 4,00, Tembus Scopus Q1 dan Puluhan Publikasi

Dalam pengembangannya, Aika menggunakan pendekatan yang menyerupai metode kerja psikolog. Sistem akan menggali informasi melalui interaksi percakapan, lalu menyusun:

  • Rangkuman kondisi pengguna
  • Penilaian awal
  • Kemungkinan diagnosis
  • Rekomendasi bantuan

Hasil analisis tersebut kemudian diteruskan kepada psikolog untuk penanganan lebih lanjut.

Baca juga: Desain Keranda Inovatif Mahasiswa ISI Surakarta Juara Kompetisi Nasional

Aika dirancang untuk digunakan oleh tiga pihak utama, yaitu:

  • Mahasiswa sebagai pengguna layanan
  • Psikolog atau konselor sebagai penerima laporan
  • Admin sebagai pengelola sistem
AIKA (Foto UGM)

“Aika tidak menggantikan peran psikolog, melainkan berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan mahasiswa dengan konselor secara lebih cepat dan terarah, termasuk menghubungkan langsung ke psikolog apabila dibutuhkan pendampingan lebih lanjut, ” ujarnya.

Selain membantu proses awal konseling, Aika juga memiliki fitur pemantauan pascakonseling melalui pengingat email. Ke depan, sistem ini direncanakan akan terintegrasi dengan platform Telegram untuk membangun support group antar pengguna.

“Penggunaan AI sebagai lapisan awal layanan kesehatan mental membantu mengurangi hambatan psikologis seperti rasa malu, takut, atau ragu untuk bercerita,” paparnya.

Giga berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan agar semakin banyak masyarakat berani mengakses layanan kesehatan mental secara dini, dengan tetap menjaga privasi pengguna.

W

Penulis: Widiyanto

Tim redaksi & kontributor Kamus Mahasiswa. Berkomitmen menyajikan informasi terpercaya seputar beasiswa, tips akademik, dan dunia mahasiswa Indonesia.

Komentar Pengunjung (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Referensi Terkait

1 Juta Lebih Sarjana Menganggur, Pakar Ungkap Masalahnya Bukan Sekadar Kompetensi
Nasional

1 Juta Lebih Sarjana Menganggur, Pakar Ungkap Masalahnya Bukan Sekadar Kompetensi

Jumlah pengangguran dari kalangan lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih menjadi perhatian.

13 jam lalu40 views
Pernah Jadi Barista hingga Bersihkan Rumah Dosen, Yuda Kini Lulusan Terbaik UIN Walisongo
Inspirasi

Pernah Jadi Barista hingga Bersihkan Rumah Dosen, Yuda Kini Lulusan Terbaik UIN Walisongo

Yuda Agustian berhasil meraih predikat sebagai lulusan terbaik fakultas dengan IPK 3,94.

13 jam lalu42 views
Kabut Asap Karhutla Ganggu Kualitas Udara, Sekolah di Riau Bisa Terapkan PJJ
Nasional

Kabut Asap Karhutla Ganggu Kualitas Udara, Sekolah di Riau Bisa Terapkan PJJ

Pemerintah Provinsi Riau menerbitkan Surat Edaran (SE) yang memungkinkan sekolah menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing.

13 jam lalu30 views
UIN Palangka Raya Kembangkan Drone AI untuk Deteksi Karhutla dari Bawah Tanah
Inspirasi

UIN Palangka Raya Kembangkan Drone AI untuk Deteksi Karhutla dari Bawah Tanah

Teknologi ini dirancang untuk menemukan titik rawan kebakaran lebih cepat di lahan gambut Kalimantan.

2 hari lalu153 views